Kesaksian Anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Tentang Kebobrokan HTI
Kamis, 09 Juni 2016
Edit
![]() |
| Harist Abu Ulya, salah satu tokoh HTI yang dianggap provokator oleh Ujang, sehari-hari menggunakan produk kapitalisme. |
Benteng NKRI, Bogor. Pada minggu lalu (2/6/2016) saya sholat dzuhur di masjid kampus Institute Pertanian Bogor (IPB). Sambil menunggu teman yang akan menjemput saya ke tempat kos-kosannya, saya duduk di serambi masjid. Ketika saya sedang sibuk mengirim pesan WhatsApp kepada teman saya, tiba-tiba seorang mahasiswa duduk di dekat saya.
Kami berkenalan dan mahasiswa tersebut bernama Ujang (bukan
nama sebenarnya).
Mahasiswa tersebut kemudian mengajak saya ngobrol ke sana
kemari. Awalnya kami sekedar basa basi dan ngobrol tentang asal usul dan
kegiatan kami sehari-hari. Namun akhirnya kami ngobrol masalah politik yang
sedang menjadi bahan pembicaraan di negeri ini.Slah satu pembicaraan kami adalah mengenai lika-liku kelompok Islam radikal.
Ujang mengaku bahwa dia masih aktif di salah
satu ormas Islam yang terkenal, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Akan tetapi, dia juga menyatakan keinginannya untuk keluar dari HTI.
Ketika saya tanya mengapa dia tertarik bergabung dengan HTI,
dia menjawab bahwa dulu dia tertarik dengan kampanye HTI untuk menegakkan
khilafah Islamiyah. Lalu, ketika saya tanya lagi mengapa dia ingin meninggalkan
HTI, dengan panjang lebar dia menjelaskan alasannya seperti ini.
Menurut Ujang, khilafah Islamiyah yang digembar-gemborkan
oleh HTI hanyalah sekedar barang dagangan yang dijual HTI untuk mengeruk
keuntungan dari para anggotanya.
Dengan jualan isu khilafah Islamiyah, para pemimpin HTI
berhasil meyakinkan para anggotanya untuk menyumbangkan uang kepada HTI. Sayangnya, uang tersebut tidak
digunakan untuk kesejahteraan umat Islam secara keseluruhan, akan tetapi hanya digunakan untuk memperkaya para para pemimpin HTI.
Ujang selanjutnya menuturkan, bahwa dia sudah muak dengan kemunafikan yang
dipertontonkan oleh para pemimpin dan anggota HTI. Misalnya, mereka mengatakan
bahwa demokrasi adalah suatu bentuk kekafiran. Akan tetapi, mereka sendiri
justru mengamalkan demokrasi dengan banyak melakukan demo-demo.
Ujang menambahkan, kalau HTI memang sungguh-sungguh
menentang demokrasi, seharusnya HTI mengharamkan kegiatan demonstrasi. Rupanya, HTI sengaha aktif melakukan demo agar HTI banyak mendapatkan publikasi media. Nah, publikasi media inilah yang kemudian mereka pakai untuk menarik sumbangan dari para donatur. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka telah melakukan kegiatan. Jadi, tujuan dari semua kegiatan demo HTI adalah semata-mata untuk mendapatkan uang dari para donaturnya. HTI tidak sungguh-sungguh ingin memperjuangkan kepentingan umat Islam.
Ujang pun mengkritisi sikap HTI yang plin plan dan tidak
konsisten. Di satu sisi, HTI sering mengkritik kapitalisme dan neoliberalisme serta
menyalahkan kapitalisme dan neoliberalisme atas semua permasalagan yang melanda
umat Islam.
Ironisnya, selama ini para pemimpin dan anggota HTI justru memenjadi
agen-agen kapitalisme dan neoliberalisme. Mereka banyak menggunakan dan mempromosikan
produk-produk kapitalisme dan neoliberalisme dalam kehidupan mereka
sehari-hari.
Bukan saja mereka menggunakan gadget-gadget buatan kaum
kapitalis dan neoliberalis, bahkan di dalam kegiatan kaderisasi mereka, mereka juga
mencontoh model kaderisasi kaum kapitalis dan neoliberalis. Misalnya, mereka
menyebarkan paham-paham radikal mereka melalui internet dan media elektronik
lainnya.
Ujang juga menjelaskan bahwa selama ini para tokoh HTI
menjadi provokator dan dengan aktif mengadu domba kaum Muslimin Indonesia
dengan pemerintah Indonesia yang sah.
Ujang mencontohkan, ketika para tokoh HTI berbicara di depan
komunitas radikal (misalnya: para anggota Islamic State/ISIS), mereka mengatakan
bahwa pemerintah Indonesia adalah pemerintahan kafir yang harus diganti/dilawan.
Akan tetapi, ketika para tokoh HTI berbicara di depan para pejabat Indonesia,
mereka mengatakan bahwa HTI tidak menentang pemerintah Indonesia dan HTI ingin membantu pemerintah menumpas kelompok radikal.
Nampaknya HTI sengaja ingin memprovokasi kelompok radikal
agar mereka melakukan aksi-aksi teror melawan pemerintah. HTI juga ingin membuat
pemerintah sibuk membasmi kelompok radikal agar pemerintah tidak melibas keberadaan
HTI.
Di samping itu, para tokoh HTI juga sering mengajak kelompok
radikal lainnya untuk berjihad (melakukan aksi-aksi serangan) melawan
pemerintah, akan tetapi para tokoh HTI sendiri tidak berani berjihad.
Pada akhir pembicaraan kami, Ujang mengatakan bahwa dengan segala kemunafikan HTI ini, HTI pasti tidak akan berhasil membodohi kaum Muslimin Indonesia. HTI
sudah pasti akan gagal dalam menjalankan bisnis/jualan khilafah Islamiyahnya di
Indonesia. (BNKRI-069).
